Showing posts with label Aneh. Show all posts
Showing posts with label Aneh. Show all posts

Saturday, 6 June 2009

Yang Unik dari jepang


unik-unik dan di jepang ( bagi orang indonesia)

  1. Di Jepang, angka “4″ dan “9″ tidak disukai, sehingga sering tidak ada nomer kamar “4″ dan “9″. “4″ dibaca “shi” yang sama bunyinya dengan yang berarti “mati”, sedang “9″ dibaca “ku”, yang sama bunyinya dengan yang berarti “kurushii/sengsara”
  2. Orang Jepang menyukai angka “8″. Harga-harga barang kebanyakan berakhiran “8″. Susu misalnya 198 yen. Tapi karena aturan sekarang ini mengharuskan harga barang yang dicantumkan sudah harus memasukkan pajak, jadi mungkin kebiasaan ini akan hilang. (Pasar = Yaoya = tulisan kanjinya berbunyi happyaku-ya atau toko 800)
  3. Kalau musim panas, drama di TV seringkali menampilkan hal-hal yang seram (hantu)
  4. Drama detektif di TV, bunyi sirene (kyukyusha) biasanya muncul pada menit-menit awal. Di akhir cerita, sebelum perkelahian mati-matian biasanya penjahat selalu menceritakan semua rahasia kejahatannya.
  5. Cara baca tulisan Jepang ada dua style : yang sama dengan buku berhuruf Roman alphabet huruf dibaca dari atas ke bawah, dan yang kedua adalah dari kolom paling kanan ke arah kiri. Sehingga bagian depan dan belakang buku berlawanan dengan buku Roman alphabet (halaman muka berada di “bagian belakang”).
  6. Kita (orang Indonesia) dan rekan-rekan dari Asia Tenggara lainnya umumnya kalau jiko-shokai (memperkenalkan diri) sering memulai dengan “minasan, konnichiwa” atau “minasan, konbanwa”. Mungkin ini karena kebiasaan bahasa Indonesia untuk selalu memulai pidato dengan ucapan selamat malam, dsb. Tapi untuk pendengaran orang Jepang, rasanya janggal, karena mirip siaran berita di TV. Seharusnya dimulai dengan langsung menyebut nama dan afiliasi. Misalnya “Tanaka ken M1 no Anto desu….dst.”, tidak perlu dengan “Minasan..konnichiwa…”.
  7. Kesulitan pertama yang muncul dalam urusan administratif di Jepang, kalau ditanya : “family name anda apa ? “, karena kita tidak ada keharusan di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara untuk mencantumkan family name.
  8. Kalau kita memperoleh undangan yang meminta konfirmasi hadir atau tidak, biasanya kita harus mengirimkan balik kartu pos. Salah satu manner adalah mencoret huruf 御 pada pilihan : 御欠席 /出席. Juga mencoret akhiran 様 pada nama kita yang tercantum sebagai pengirim pada kartupos tersebut. Ini adalah adat Jepang, agar kita selalu rendah hati, yang ditunjukkan dengan menghindari/mencoret 御 dan 様 pada kartu pos balasan.
  9. Kalau kita membubuhkan tanda tangan, kadang akan ditanya orang Jepang : ini bacanya bagaimana ? Kalau di Jepang saat diperlukan tanda tangan (misalnya di paspor, dsb.) umumnya menuliskan nama mereka dalam huruf Kanji, sehingga bisa terbaca dengan jelas. Sedangkan kita biasanya membuat singkatan atau coretan sedemikian hingga tidak bisa ditiru/dibaca oleh orang lain.
  10. Acara TV di Jepang didominasi oleh masak memasak
  11. Fotocopy di Jepang self-service, sedangkan di Indonesia di-service.
  12. Jika naik taxi di Jepang, pintu dibuka dan ditutup oleh supir. Penumpang dilarang membuka dan menutupnya sendiri.
  13. Tanda tangan di Jepang hampir tidak pernah berlaku untuk keperluan formal, melainkan harus memakai hanko/inkan/cap. Jenis hanko di Jepang ada beberapa, a.l. jitsu-in, ginko-in, dan mitome-in Jadi satu orang kadang memiliki beberapa jenis inkan, untuk berbagai keperluan. Jitsu-in adalah inkan yang dipakai untuk keperluan yang sangat penting, seperti beli rumah, beli mobil, untuk jadi guarantor, dsb. jenis ini diregisterkan ke shiyakusho. Ginko-in adalah jenis inkan yang dipakai untuk khusus membuat account di bank. inkan ini diregisterkan ke bank. Mitome-in dipakai untuk keperluan sehari-hari, dan tidak diregisterkan.
  14. Naik sepeda tidak boleh boncengan (kecuali memboncengkan anak-anak)
  15. Ajakan makan bersama belum tentu berarti anda ditraktir, tapi bisa jadi bayar sendiri-sendiri.
  16. Di Jepang sulit mencari mesin ketik
  17. Pernah nggak melihat cara orang Jepang menghitung “satu”, “dua”, “tiga”,…. dengan jari tangannya ? Kalau rekan-rekan perhatikan, ada perbedaan dengan kebiasaan orang Indonesia. Orang Indonesia umumnya mulai dari tangan dikepal dan saat menghitung “satu”, jari kelingking ditegakkan. Menghitung “dua”, jari manis ditegakkan, dst. Kalau orang Jepang, setahu saya, kebalikannya. Mereka selalu mulai dari telapak tangan terbuka, dan cara menghitungnya kebalikan orang Indonesia. Saat bilang “satu”, maka jarinya akan ditekuk/ditutupkan ke telapak tangan. Misalnya Nggak percaya ? Coba deh…jikken dengan teman Jepang anda.
  18. Cara menulis angka : 7 (tujuh). Kebiasaan orang Indonesia selalu menambahkan coret kecil di kaki angka 7 (mirip huruf “NU” katakana : ヌ). Di Jepang selalu dididik menulis 7 persis seperti huruf ketik (tanpa coretan nya orang Indonesia), jadi mirip huruf katakana “FU” (フ) atau “WA” (ワ). Saat saya riset handwriting numeral recognition, saya lihat ratusan tulisan tangan orang Jepang tentang angka 7, dan tidak ada satu pun yang sama dengan yang “made in Indonesia”. Moral of the story : Hati-hati kalau menulis alamat, formulir atau dokumen lainnya di Jepang. Sedapat mungkin usahakan sama dengan standard Jepang. Kalau nggak, belum tentu dapat difahami oleh orang Jepang bahwa anda menulis angka “tujuh”.
  19. Di Jepang, angka “4″ dan “9″ tidak disukai, sehingga sering tidak ada nomer kamar “4″ dan “9″. “4″ dibaca “shi” yang sama bunyinya dengan yang berarti “mati”, sedang “9″ dibaca “ku”, yang sama bunyinya dengan yang berarti “kurushii/sengsara”
  20. Orang Jepang menyukai angka “8″. Harga-harga barang kebanyakan berakhiran “8″. Susu misalnya 198 yen. Tapi karena aturan sekarang ini mengharuskan harga barang yang dicantumkan sudah harus memasukkan pajak, jadi mungkin kebiasaan ini akan hilang. (Pasar = Yaoya = tulisan kanjinya berbunyi happyaku-ya atau toko 800)
  21. Kalau musim panas, drama di TV seringkali menampilkan hal-hal yang seram (hantu)
  22. Drama detektif di TV, bunyi sirene (kyukyusha) biasanya muncul pada menit-menit awal. Di akhir cerita, sebelum perkelahian mati-matian biasanya penjahat selalu menceritakan semua rahasia kejahatannya.
  23. Cara baca tulisan Jepang ada dua style : yang sama dengan buku berhuruf Roman alphabet huruf dibaca dari atas ke bawah, dan yang kedua adalah dari kolom paling kanan ke arah kiri. Sehingga bagian depan dan belakang buku berlawanan dengan buku Roman alphabet (halaman muka berada di “bagian belakang”).
  24. Kita (orang Indonesia) dan rekan-rekan dari Asia Tenggara lainnya umumnya kalau jiko-shokai (memperkenalkan diri) sering memulai dengan “minasan, konnichiwa” atau “minasan, konbanwa”. Mungkin ini karena kebiasaan bahasa Indonesia untuk selalu memulai pidato dengan ucapan selamat malam, dsb. Tapi untuk pendengaran orang Jepang, rasanya janggal, karena mirip siaran berita di TV. Seharusnya dimulai dengan langsung menyebut nama dan afiliasi. Misalnya “Tanaka ken M1 no Anto desu….dst.”, tidak perlu dengan “Minasan..konnichiwa…”.
  25. Kesulitan pertama yang muncul dalam urusan administratif di Jepang, kalau ditanya : “family name anda apa ? “, karena kita tidak ada keharusan di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara untuk mencantumkan family name.
  26. Kalau kita memperoleh undangan yang meminta konfirmasi hadir atau tidak, biasanya kita harus mengirimkan balik kartu pos. Salah satu manner adalah mencoret huruf 御 pada pilihan : 御欠席 /出席. Juga mencoret akhiran 様 pada nama kita yang tercantum sebagai pengirim pada kartupos tersebut. Ini adalah adat Jepang, agar kita selalu rendah hati, yang ditunjukkan dengan menghindari/mencoret 御 dan 様 pada kartu pos balasan.
  27. Kalau kita membubuhkan tanda tangan, kadang akan ditanya orang Jepang : ini bacanya bagaimana ? Kalau di Jepang saat diperlukan tanda tangan (misalnya di paspor, dsb.) umumnya menuliskan nama mereka dalam huruf Kanji, sehingga bisa terbaca dengan jelas. Sedangkan kita biasanya membuat singkatan atau coretan sedemikian hingga tidak bisa ditiru/dibaca oleh orang lain.
  28. Acara TV di Jepang didominasi oleh masak memasak
  29. Fotocopy di Jepang self-service, sedangkan di Indonesia di-service.
  30. Jika naik taxi di Jepang, pintu dibuka dan ditutup oleh supir. Penumpang dilarang membuka dan menutupnya sendiri.
  31. Tanda tangan di Jepang hampir tidak pernah berlaku untuk keperluan formal, melainkan harus memakai hanko/inkan/cap. Jenis hanko di Jepang ada beberapa, a.l. jitsu-in, ginko-in, dan mitome-in Jadi satu orang kadang memiliki beberapa jenis inkan, untuk berbagai keperluan. Jitsu-in adalah inkan yang dipakai untuk keperluan yang sangat penting, seperti beli rumah, beli mobil, untuk jadi guarantor, dsb. jenis ini diregisterkan ke shiyakusho. Ginko-in adalah jenis inkan yang dipakai untuk khusus membuat account di bank. inkan ini diregisterkan ke bank. Mitome-in dipakai untuk keperluan sehari-hari, dan tidak diregisterkan.
  32. Naik sepeda tidak boleh boncengan (kecuali memboncengkan anak-anak)
  33. Ajakan makan bersama belum tentu berarti anda ditraktir, tapi bisa jadi bayar sendiri-sendiri.
  34. Di Jepang sulit mencari mesin ketik
  35. Pernah nggak melihat cara orang Jepang menghitung “satu”, “dua”, “tiga”,…. dengan jari tangannya ? Kalau rekan-rekan perhatikan, ada perbedaan dengan kebiasaan orang Indonesia. Orang Indonesia umumnya mulai dari tangan dikepal dan saat menghitung “satu”, jari kelingking ditegakkan. Menghitung “dua”, jari manis ditegakkan, dst. Kalau orang Jepang, setahu saya, kebalikannya. Mereka selalu mulai dari telapak tangan terbuka, dan cara menghitungnya kebalikan orang Indonesia. Saat bilang “satu”, maka jarinya akan ditekuk/ditutupkan ke telapak tangan. Misalnya Nggak percaya ? Coba deh…jikken dengan teman Jepang anda.
  36. Cara menulis angka : 7 (tujuh). Kebiasaan orang Indonesia selalu menambahkan coret kecil di kaki angka 7 (mirip huruf “NU” katakana : ヌ). Di Jepang selalu dididik menulis 7 persis seperti huruf ketik (tanpa coretan nya orang Indonesia), jadi mirip huruf katakana “FU” (フ) atau “WA” (ワ). Saat saya riset handwriting numeral recognition, saya lihat ratusan tulisan tangan orang Jepang tentang angka 7, dan tidak ada satu pun yang sama dengan yang “made in Indonesia”. Moral of the story : Hati-hati kalau menulis alamat, formulir atau dokumen lainnya di Jepang. Sedapat mungkin usahakan sama dengan standard Jepang. Kalau nggak, belum tentu dapat difahami oleh orang Jepang bahwa anda menulis angka “tujuh”.
  37. Di Jepang, angka “4″ dan “9″ tidak disukai, sehingga sering tidak ada nomer kamar “4″ dan “9″. “4″ dibaca “shi” yang sama bunyinya dengan yang berarti “mati”, sedang “9″ dibaca “ku”, yang sama bunyinya dengan yang berarti “kurushii/sengsara”
  38. Orang Jepang menyukai angka “8″. Harga-harga barang kebanyakan berakhiran “8″. Susu misalnya 198 yen. Tapi karena aturan sekarang ini mengharuskan harga barang yang dicantumkan sudah harus memasukkan pajak, jadi mungkin kebiasaan ini akan hilang. (Pasar = Yaoya = tulisan kanjinya berbunyi happyaku-ya atau toko 800)
  39. Kalau musim panas, drama di TV seringkali menampilkan hal-hal yang seram (hantu)
  40. Drama detektif di TV, bunyi sirene (kyukyusha) biasanya muncul pada menit-menit awal. Di akhir cerita, sebelum perkelahian mati-matian biasanya penjahat selalu menceritakan semua rahasia kejahatannya.
  41. Cara baca tulisan Jepang ada dua style : yang sama dengan buku berhuruf Roman alphabet huruf dibaca dari atas ke bawah, dan yang kedua adalah dari kolom paling kanan ke arah kiri. Sehingga bagian depan dan belakang buku berlawanan dengan buku Roman alphabet (halaman muka berada di “bagian belakang”).
  42. Kita (orang Indonesia) dan rekan-rekan dari Asia Tenggara lainnya umumnya kalau jiko-shokai (memperkenalkan diri) sering memulai dengan “minasan, konnichiwa” atau “minasan, konbanwa”. Mungkin ini karena kebiasaan bahasa Indonesia untuk selalu memulai pidato dengan ucapan selamat malam, dsb. Tapi untuk pendengaran orang Jepang, rasanya janggal, karena mirip siaran berita di TV. Seharusnya dimulai dengan langsung menyebut nama dan afiliasi. Misalnya “Tanaka ken M1 no Anto desu….dst.”, tidak perlu dengan “Minasan..konnichiwa…”.
  43. Kesulitan pertama yang muncul dalam urusan administratif di Jepang, kalau ditanya : “family name anda apa ? “, karena kita tidak ada keharusan di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara untuk mencantumkan family name.
  44. Kalau kita memperoleh undangan yang meminta konfirmasi hadir atau tidak, biasanya kita harus mengirimkan balik kartu pos. Salah satu manner adalah mencoret huruf 御 pada pilihan : 御欠席 /出席. Juga mencoret akhiran 様 pada nama kita yang tercantum sebagai pengirim pada kartupos tersebut. Ini adalah adat Jepang, agar kita selalu rendah hati, yang ditunjukkan dengan menghindari/mencoret 御 dan 様 pada kartu pos balasan.
  45. Kalau kita membubuhkan tanda tangan, kadang akan ditanya orang Jepang : ini bacanya bagaimana ? Kalau di Jepang saat diperlukan tanda tangan (misalnya di paspor, dsb.) umumnya menuliskan nama mereka dalam huruf Kanji, sehingga bisa terbaca dengan jelas. Sedangkan kita biasanya membuat singkatan atau coretan sedemikian hingga tidak bisa ditiru/dibaca oleh orang lain.
  46. Acara TV di Jepang didominasi oleh masak memasak
  47. Fotocopy di Jepang self-service, sedangkan di Indonesia di-service.
  48. Jika naik taxi di Jepang, pintu dibuka dan ditutup oleh supir. Penumpang dilarang membuka dan menutupnya sendiri.
  49. Tanda tangan di Jepang hampir tidak pernah berlaku untuk keperluan formal, melainkan harus memakai hanko/inkan/cap. Jenis hanko di Jepang ada beberapa, a.l. jitsu-in, ginko-in, dan mitome-in Jadi satu orang kadang memiliki beberapa jenis inkan, untuk berbagai keperluan. Jitsu-in adalah inkan yang dipakai untuk keperluan yang sangat penting, seperti beli rumah, beli mobil, untuk jadi guarantor, dsb. jenis ini diregisterkan ke shiyakusho. Ginko-in adalah jenis inkan yang dipakai untuk khusus membuat account di bank. inkan ini diregisterkan ke bank. Mitome-in dipakai untuk keperluan sehari-hari, dan tidak diregisterkan.
  50. Naik sepeda tidak boleh boncengan (kecuali memboncengkan anak-anak)
  51. Ajakan makan bersama belum tentu berarti anda ditraktir, tapi bisa jadi bayar sendiri-sendiri.
  52. Di Jepang sulit mencari mesin ketik
  53. Pernah nggak melihat cara orang Jepang menghitung “satu”, “dua”, “tiga”,…. dengan jari tangannya ? Kalau rekan-rekan perhatikan, ada perbedaan dengan kebiasaan orang Indonesia. Orang Indonesia umumnya mulai dari tangan dikepal dan saat menghitung “satu”, jari kelingking ditegakkan. Menghitung “dua”, jari manis ditegakkan, dst. Kalau orang Jepang, setahu saya, kebalikannya. Mereka selalu mulai dari telapak tangan terbuka, dan cara menghitungnya kebalikan orang Indonesia. Saat bilang “satu”, maka jarinya akan ditekuk/ditutupkan ke telapak tangan. Misalnya Nggak percaya ? Coba deh…jikken dengan teman Jepang anda.
  54. Cara menulis angka : 7 (tujuh). Kebiasaan orang Indonesia selalu menambahkan coret kecil di kaki angka 7 (mirip huruf “NU” katakana : ヌ). Di Jepang selalu dididik menulis 7 persis seperti huruf ketik (tanpa coretan nya orang Indonesia), jadi mirip huruf katakana “FU” (フ) atau “WA” (ワ). Saat saya riset handwriting numeral recognition, saya lihat ratusan tulisan tangan orang Jepang tentang angka 7, dan tidak ada satu pun yang sama dengan yang “made in Indonesia”. Moral of the story : Hati-hati kalau menulis alamat, formulir atau dokumen lainnya di Jepang. Sedapat mungkin usahakan sama dengan standard Jepang. Kalau nggak, belum tentu dapat difahami oleh orang Jepang bahwa anda menulis angka “tujuh”.


Tuesday, 2 June 2009

INDONESIA VS MALAYSIA DI FACEBOOK


Segelintir orang membuat kelompok ‘Ganyang Malaysia’ di Facebook. Pihak Malaysia pun membalas dengan ‘Ganyang Indonesia’. Duh!

Malaysia dan Indonesia memiliki hubungan yang unik. Di satu sisi kedua negara ini adalah saudara serumpun. Di sisi lain, kerap ada sentimen Indonesia versus Malaysia yang dihembus-hembuskan.

Salah satunya adalah melalui fasilitas Groups di Facebook. Segelintir pengguna internet asal Malaysia dilaporkan telah membuat kelompok bernama ‘Ganyang Indonesia!!!’.

Informasi yang diterima detikINET dari pembaca, Kamis (2/4/2009) menyebutkan adanya kelompok tersebut.

Saat dikunjungi detikINET, Kamis (2/4/2009) pukul 14:15 WIB, kelompok itu telah menjaring 274 anggota. Selain dari Malaysia, beberapa anggota nampaknya juga berasal dari Indonesia.

Dalam deskripsinya, grup ‘Ganyang Indonesia’ agaknya didirikan sebagai reaksi atas grup bernama ‘Ganyang Malaysia’. Sang pembuat grup Ganyang Indonesia pun nampak penuh marah dan dendam dalam deskripsi tersebut.

Kata-kata kotor, caci maki dan umpatan menghiasi deskripsi tersebut. “Kalau nak lawan, ‘no holds barred’. Lihat macam mana kawan kawan kita dari Ganyang Malaysia! maki hamun orang Malaysia. Tak pe rakan rakan, biar indon tunjuk dia ***, kerana dia memang ***! GANYANG INDONESIA!”

Dalam kedua grup itu, binatang babi jadi ikon. Di ‘Ganyang Indonesia’, Babi ditampilkan dalam bentuk kartun sedangkan di ‘Ganyang Malaysia’ berbentuk foto olah digital.

GANYANG MALAYSIA
Berikut dari isi pernyataan “GANYANG MALAYSIA” : 2.242 member

Yah, bukanny mau merendahkan bangsa Malaysia, tp kenyataannya KAMI LEBIH BAIK…KAMI LEBIH HEBAT…KAMI LEBIH DARI MALAYSIA!!!, krn alasan2 berikut :

1. Kami lebih besar, dan merupakan negara terbesar di Asia Tenggara.

2. Jumlah penduduk kami lebih banyak, dan kami bangga akan hal itu!!!

3. Ambil saja Sipadan dan Ligitan, kami masih punya puluhan ribu pulau…HAHAHA!!!, mau lagi, silahkan ambil…

4. Haduh, kasian yah Malaysia, kagak punya tradisi tersendiri….uuppppssss, malah ambil Batik ama Angklung Indonesia….pulau SIPADAN hasil curiannya dari Indonesia juga dibangga2kan. kami masih punya banyak kok di Indonesia…tenang saja…mau SOTO??, NASI GORENG??, RENDANG??…apa???…mau apa???…silahkan…

5. Tetangga kita itu PEMALAS!!!, so mereka sewa org2 Indonesia buat cuci piring, ngepel, dsb…

6. Well, at least kita pernah ada Presiden Wanita..haha!

7. haduh, MALAYSIA itu d mana yah?

8. liat aja nama Ibukotanya, wakakakaka…

9. Bahasa Melayu = Bahasa Indonesia yg salah!!! (jangan ditiru teman2!!!)…bayangin aja… pintu darurat di pesawat dinamakan Pintu panik-panik…wakakakaka

10. Bali di mana yaaa???

11. haduh, siapa org Malaysia kagak taw Sheila On 7, Ungu, Padi, Krisdayanti, Agnes Monica, Titik Puspa, dll…dan kita hanya tau Siti Nurhaliza…wakakakaka

12. oia, kami itu INDONESIA, bukan INDON, jadi STOP PANGGIL KAMI INI INDON!!!

13. Coba hitung negara d dunia yg d dalam benderanya ada bulan / bintang, dan bandingkan negara di dunia yg merah putih (hmmm….cuma Indonesia & Monaco tuh!!!)..HAHA!

14. Udah berapa banyak situs Malaysia yg dibajak org Indonesia?… :)

15. Peraih medali PERAK malaysia lee chong wei sangat dielu2kan,padahal dia cuman dapet PERAK!!! sampai2 dikasih gelar datuk lee chong wei.ternyata sewaktu diwawancarai DIA GAK BISA BAHASA MELAYU!!!DIWAWANCARAI JAWABNYA MAKE BAHASA CINA!!!ckckckckck udah dikasih gelar datuk eh taunya bahasa negri sendiri aja gak bisa….malu2in

16. Indonesia sering juara di Olimpiade Fisika, Matematika, Kimia, Biologi. Cina adalah saingan terberatnya. Malaysia mana ya???

17. bilangnya udah bisa bikin pesawat tanpa awak. padahal…….yg bikin org2 dari Dirgantara Indonesia tuhhhhhh!! malu deh ah!!
Contact Info :
http://www.malingsia.com/


Pernyataan dari ” GANYANG INDONESIA ” 288 members

RAKAN RAKAN. DI FACEBOOK ADA GROUP YANG DIPANGGIL GANYANG MALAYSIA!!! DI SANA, ORANG MALAYSIA DIHANTAM BURUK BURUK OLEH ANAK ANAK SETAN DARI INDON. YA! PERLAWANAN YANG HEBAT SEDANG BERLANJUTAN DI SANA.

SEKARANG, SEBAGAI REAKSI KEPADA GANYANG MALAYSIA!!! AKU TELAH BUKA GROUP INI, GANYANG INDONESIA!!! SILA RAMAI RAMAI JOIN GROUP INI UNTUK BELASAH SI BODOH ORANG INDON, YANG INGAT PANDAI, TAPI MAKAN BABI.

Perlawanan diantara Ganyang Malaysia dan Ganyang Indonesia. Biar kita lawan.

Kalau nak lawan, ‘no holds barred’. Lihat macam mana kawan kawan kita dari Ganyang Malaysia!!! maki hamun orang Malaysia. Tak pe rakan rakan, biar indon tunjuk dia bodoh, kerana dia memang bodoh ! GANYANG INDONESIA!!!

Orang Indon tu semua kecil molek. Macam tikus di depan harimau. Mari kita makan dia untuk sajian malam kang.

http://bangsabodoh.wordpress.com/2007/05/20/bangsa-indonesia-adalah-bangsa-yang-bo

Monday, 1 June 2009

Aneh ada Kota Yang Tidak Memiliki Angka 12,13,14

Angka 13 dianggap oleh sebagian orang sebagai angka sial. Kota Palmerston North yang berada di Selandia Baruadalah salah satu kota yang mempercayai anggapan itu. Dan demi menangkis segala kesialan yang mungkin akan terjadi, angka 13 disingkirkan dari deretan angka.

Kebijakan tidak biasa ini diambil agar orang-orang yang memiliki phobia dengan angka 13 tidak lagi takut untuk membeli rumah dengan angka yang dianggap sial itu, tertulis di kotak pos mereka.

Tidak hanya angka 13, kota ini juga mengeluarkan kebijakan untuk menghilangkan dua angka lainnya yaitu 12 dan 14. Mereka meyakini bahwa kedua angka tersebut juga akan menularkan nasib sial karena berdampingan dengan angka 13. Jadi tidak perlu heran jika suatu saat Anda mengunjungi kota Palmerston North dan tidak menemui rumah dengan nomor 12, 13 dan 14.

Peraturan yang dibuat oleh pemerintah setempat ini sempat menuai kontraversi, karena tidak semua penduduk mempercayai mitos tersebut.

Salah satu warga yang tidak mempercayainya adalah Basil Buckley. Lelaki berusia 92 tahun ini menganggap kebijakan tersebut sebagai omong kosong. Dia mengatakan bahwa sudah hampir 40 tahun dirinya tinggal di sebuah rumah bernomor 13, namun hingga kini kondisinya masih dalam keadaan baik dan tidak ada kejadian buruk yang menimpanya.[cntq/ais]RILEKS.COM




Nikah Setelah 50 Tahun Tunangan

John Searle (kiri) dan Maggie Crook. (Telegraph.co.uk)

John Searle (kiri) dan Maggie Crook. (Telegraph.co.uk)

DEVON – Biasanya pasangan menikah tak lama setelah bertunangan. Namun tidak bagi pasangan Inggris ini. Mereka baru menikah setelah bertunangan selama 50 tahun.

John Searle dan Maggie Crook baru berusia 18 tahun saat bertunangan di kota kelahirannya Exmouth, Devon. Pasangan itu melangsungkan pernikahannya pada Rabu 27 Mei saat sudah berusia 69 tahun.

Searle yang merupakan mantan anggota Angkatan Laut Inggris itu menyatakan, pernikahannya dengan Maggie sudah ditunggu-tunggunya sejak lama. “Saya tak sabar untuk menghabiskan sisa umur bersamanya,” kata Searle seperti dikutip Telegraph.co.uk, Jumat (29/5/2009).

Maggie mengatakan, pernikahannya berjalan lancar, karena masing-masing keluarga sudah saling kenal.

Mereka terpisah saat Maggie pergi ke Kanada bekerja sebagai perawat, sementara Searle harus melakukan perjalanan dinas militer.

Meski demikian, keduanya mengaku tidak pernah melupakan masa-masa remajanya yang romantis. Maggie mengaku tak pernah lupa mengirim kartu Natal setiap tahun sejak berpisah, hingga memutuskan untuk bertemu dua tahun lalu.

Sebelumnya, Maggie sudah dua kali menikah hingga menjanda empat tahun lalu. Sementara Searle sudah memiliki empat anak.

Mereka bertemu pada 2007 dan sejak itu merencanakan untuk menikah. Meski sudah lama berpisah, mereka juga mengaku tidak pernah ill feel.
(ton)OKEZONE.COM